LIVEBTC $78,522.00 ▼ 1.70%ETH $2,250.87 ▼ 2.59%SOL $98.13 ▼ 1.83%BNB $714.83 ▼ 4.96%DOGE $0.0763 ▼ 2.07%
Analisis Narasi

Operasi Confrontation Ghost: UEA dan 30 Negara Identifikasi $39 Miliar Dana Scam, 960 Orang Ditangkap

Uae Featured

Uni Emirat Arab mengumumkan hasil operasi anti-penipuan internasional terbesar yang pernah dipimpinnya. Operasi bernama Confrontation Ghost berjalan selama tiga bulan, dari 1 Juli hingga 30 September 2026, dan melibatkan aparat penegak hukum dari 30 negara di lima benua, INTERPOL, Global Anti-Scam Alliance (GASA), serta 13 perusahaan swasta dari sektor teknologi dan keuangan. Hasil operasi diumumkan di Wina pada 22 Oktober 2026, di sela Konferensi Para Pihak Konvensi PBB Melawan Kejahatan Terorganisasi Transnasional.

Ringkasan

  • Operasi Confrontation Ghost dipimpin Kementerian Dalam Negeri UEA, berlangsung 1 Juli sampai 30 September 2026, dengan 30 negara, INTERPOL, GASA, dan 13 perusahaan teknologi serta keuangan.
  • Lebih dari $39 miliar dana dan aset kripto yang diduga terkait penipuan teridentifikasi. Lebih dari 960 orang ditangkap, 3.500 tersangka dan 15.500 korban teridentifikasi.
  • Otoritas menggerebek 29 pusat penipuan, menutup lebih dari 570 akun media sosial, memblokir 4.126 rekening bank, dan menggagalkan lebih dari 123,7 juta upaya penipuan daring.
  • Angka $39 miliar adalah dana yang teridentifikasi, bukan dana yang sudah disita atau dikembalikan ke korban. Upaya pemulihan aset masih berjalan.

Angka-Angka Operasinya

Angka-angka Operasi Confrontation Ghost: $39 miliar dana teridentifikasi, 960 ditangkap, 29 pusat penipuan digerebek, 15.500 korban teridentifikasi
Angka-angka Operasi Confrontation Ghost, 1 Juli sampai 30 September 2026. (Ilustrasi: memecoin.id, berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri UEA via PR Newswire 22 Okt 2026, PANews, FinanceFeeds, SpendNode, dan WAM)

Tiga jenis kejahatan menjadi sasaran operasi ini: penipuan berbantuan kecerdasan buatan (AI), penipuan keuangan digital, dan pemerasan bermuatan seksual yang difasilitasi teknologi. Kejahatan terakhir ini, menurut pernyataan resmi UEA yang diberitakan PR Newswire, kerap menyasar anak-anak dan remaja. Selama tiga bulan, negara-negara peserta saling bertukar lebih dari 9.000 informasi intelijen untuk memburu jaringan kriminal yang beroperasi lintas batas negara.

Yang Perlu Dipahami dari Angka $39 Miliar

Angka $39 miliar memang mencolok, tapi perlu dibaca dengan tepat. Menurut Kementerian Dalam Negeri UEA, angka itu adalah dana dan aset kripto yang teridentifikasi terkait aktivitas penipuan di seluruh yurisdiksi peserta, bukan satu dompet raksasa yang disita, dan bukan jumlah yang sudah dikembalikan ke korban. PANews melaporkan negara-negara peserta, yurisdiksi, dan mitra swasta kini bekerja sama untuk memulihkan aset-aset tersebut, tanpa rincian berapa yang sudah berhasil diamankan.

Angka itu juga mencakup dana konvensional dan kripto sekaligus. Seperti dianalisis SpendNode, pencampuran ini wajar karena hasil kejahatan jarang bertahan lama dalam bentuk kripto. Pola umumnya: korban mengirim dana fiat ke exchange, membeli stablecoin seperti USDT, lalu mengirimnya ke wallet yang dikuasai penipu, sebelum akhirnya dicairkan lewat berbagai jalur. Dana fiat dan kripto bertemu di titik masuk dan keluar, dan di sanalah pelacakan lintas batas menjadi rumit.

Meski begitu, skalanya menempatkan operasi ini di antara gerakan terkoordinasi terbesar melawan penipuan terkait kripto yang pernah tercatat. Untuk perbandingan, dalam tiga bulan operasi ini juga menggagalkan lebih dari 123,7 juta upaya penipuan daring di seluruh dunia, menurut kantor berita resmi UEA, WAM.

Kenapa Perusahaan Teknologi Ikut Turun Tangan

Bagian yang paling menarik dari operasi ini mungkin justru daftar pesertanya. Tiga belas perusahaan swasta ikut serta, termasuk Meta, TikTok, Mastercard, Huawei, dan Crypto.com. Kehadiran mereka bukan hiasan. Pelacakan penipuan modern sangat bergantung pada perusahaan analitik blockchain dan tim kepatuhan exchange, karena uang bergerak lebih cepat daripada yang bisa diikuti satu kepolisian negara.

Kolonel Dana Humaid Al Marzouqi, Direktur Jenderal Biro Urusan Internasional Kementerian Dalam Negeri UEA, seperti dikutip FinanceFeeds, menyebut operasi ini mengubah intelijen yang dibagikan bersama menjadi aksi operasional yang terkoordinasi. Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) memuji peran UEA dalam mempertemukan aparat penegak hukum, lembaga keuangan, dan perusahaan teknologi.

Pola ini menandai pergeseran cara penegakan hukum bekerja: dari menunggu laporan korban lalu menyita, menjadi pemantauan berkelanjutan di mana penyedia analitik menandai klaster alamat yang terkait scam sebelum korban sempat melapor. Dana bisa dibekukan di exchange yang kooperatif saat scam-nya masih berjalan, bukan berbulan-bulan kemudian.

29 Pusat Penipuan yang Digerebek

Selain angka di dunia digital, operasi ini juga menyasar infrastruktur fisik: 29 pusat penipuan digerebek. Menurut analisis SpendNode, penggerebekan semacam ini menargetkan jantung operasional scam investasi dan scam asmara yang kerap disebut pig butchering. Penipuan ini dijalankan dari kompleks tempat para pekerjanya, yang banyak di antaranya adalah korban perdagangan manusia, dipaksa menjalankan skrip penipuan jangka panjang terhadap korban di luar negeri.

Meruntuhkan bangunan dan menangkap orang di dalamnya jauh lebih sulit dipulihkan pelaku daripada sekadar membekukan wallet, yang bisa diganti dalam hitungan menit. Inilah alasan penggerebekan fisik dianggap pukulan yang lebih berat dibanding pemblokiran aset digital semata.

Pelajaran Buat Pengguna Kripto

Berita operasi sebesar ini jarang menggerakkan harga pasar, tapi pesannya relevan buat siapa pun yang memegang kripto. Sebagian besar korban scam bukan diretas secara teknis, melainkan dipancing menyerahkan dananya sendiri lewat manipulasi. Pola pig butchering yang jadi sasaran operasi ini punya ciri khas: grup investasi di media sosial, keuntungan kecil di awal untuk membangun kepercayaan, lalu penarikan yang dipersulit dengan berbagai alasan saat korban ingin menarik dananya.

Aturannya tetap sama: verifikasi setiap lawan transaksi sebelum mengirim dana. Anggap tawaran investasi yang datang tiba-tiba, tawaran pemulihan dana dari pihak tak dikenal, dan permintaan uang yang dibungkus hubungan asmara sebagai ancaman sampai terbukti sebaliknya. Korban scam paling sering gugur pada transfer pertama yang tidak terverifikasi, jauh sebelum analisis blockchain apa pun bisa membantu.

Kenali pola scam sebelum jadi korban

Operasi Confrontation Ghost menyasar jaringan scam investasi yang juga marak di dunia memecoin. Pelajari tanda-tanda bahayanya dan modus phishing terbaru yang menguras jutaan dolar dari pengguna wallet.

Baca: Cara Cek Memecoin Scam, 7 Tanda Bahaya dan Cara Verifikasinya

Baca juga: Phishing Lewat Notifikasi Palsu Kuras $2,56 Juta dari Pengguna NGRAVE

Referensi Artikel
  • PR Newswire: siaran pers resmi Kementerian Dalam Negeri UEA tentang Operasi Confrontation Ghost (dipublikasikan 22 Oktober 2026).
  • PANews: UAE Teams Up with 30 Countries and Multiple Companies to Target Cross-Border Digital Scam Networks (dipublikasikan 23 Oktober 2026).
  • FinanceFeeds: UAE-Led Fraud Sweep Flags $39B, 960 Arrests in 30 Countries (dipublikasikan 23 Oktober 2026).
  • SpendNode: UAE-Led INTERPOL Operation Hits $39B Crypto Scam Network (dipublikasikan 23 Oktober 2026), berisi analisis pola pencucian dana scam.
  • Mobile World Live: UAE leads crackdown against AI fraud.
  • The Emirates Times: UAE-Led Operation Exposes $39 Billion in Illicit Funds (mengutip kantor berita resmi UEA, WAM).
  • CryptoWave: UEA Tangkap 960 Orang Terkait Penipuan Dana dan Aset Kripto Senilai $39 Miliar (dipublikasikan 23 Oktober 2026, media Indonesia).
SoliusXBT

Crypto enthusiast dan pemburu memecoin. Suka bedah narasi, ngulik token micin, dan menerjemahkan gonjang-ganjing pasar ke bahasa yang gampang dipahami.

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *